Home » Archives for Juli 2013
Pedagang Lesehan Pasar Kota Wonogiri.
Diposting oleh moga
[VIDEO] Pedagang di Kota Cilegon Diduga Jual Daging Berformalin
Diposting oleh moga
Peminat Parcel Menurun, Pedagang di Cikini Mengeluh
Diposting oleh moga
Omzet Turun 50%, Pedagang Ikan Pilih Mudik Lebih Cepat
Diposting oleh moga
Hindari Rugi, Pedagang Kaburkan Tanggal Kedaluwarsa
Diposting oleh moga
Pedagang Jujur Bersama Nabi
Diposting oleh moga
VIDEO: Harga Mahal, Pedagang Pilih Jual Daging Sisa
Diposting oleh moga
http://kabarpedagang.blogspot.com, Jakarta : seiring naiknya harga daging serta berkurangnya jumlah pembeli, para pedagang menjual daging nomor dua agar masyarakat tetap bisa membeli sumber bahan protein hewani tersebut. Kondisi ini setidaknya tampak di pasartradisional Prambanan, Sleman, Yogkarta.
Daging kelas dua adalah daging sisa penyembelihan atau bagian daging yang masih banyak terdapat tulang-tulangnya. Daging jenis ini hanya dijual seharga Rp 30 ribu rupiah per kilogram. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan harga daging di pasaran yang sempat menyentuh level 100 ribu per Kg.
Pilihan menjual daging kualitas nomor dua dilakukan para pedagang karena kurangnya kemampuan masyarakat untuk membeli daging. Akibatnya omzet penjualan daging terus menurun karena pembeli terus berkurang
"Harga daging masih tinggi. Harganya sudah tak nyampe. Sudah tidak laku. Orang pada nawar rendah," salah seorang pedagang daging Yogyakarta, Sri Murwani, Kamis (25/7/2013).
Pasar Sepi
Sementara itu di Polewali, Sulawesi Barat, pasar tradisional Polewali Mandar terlihat mulai sepi pengunjung. Kondisi ini disebabkan terus meroketnya harga sejumlah bahan sayur dan ikan.
Tak hanya para pedagang, pembeli di Pasar Polewali Mandar juga mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang meningkat tajam. akibatnya, pasar yang biasanya ramai dikunjugi pembeli tersebut kini menurun drastis bahkan terlihat lengang.
Harga sayur mayur dan daging ayam tercatat naik 100% bahkan harga ikan naik lebih dari 100%. Kenaikan harga ini akan terus terjadi hingga menjelang Lebaran nanti sehingga membuat kemampuan membeli masyarakat terus menurun. (Shd)
Pedagang Sayur Pusing KRL Ekonomi Bogor
Diposting oleh moga
Saking penuhnya, penumpang Kereta Ekonomi Tanah Abang-Rangkas Bitung memenuhi atap gerbong kereta saat melintas di Kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Selasa (7/5/2013). Kondisi ini merupakan salah satu imbas penutupan KRL Ekonomi lintas Paraung Panjang-Tanah Abang yang mulai diberlakukan hari itu. | http://kabarpedagang.blogspot.com/WISNU WIDIANTORO
JAKARTA, http://kabarpedagang.blogspot.com.com - Mulai hari ini, Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi jurusan Bogor-Tanah Abang telah resmi dihapus. Hal tersebut membuat para pedagang sayur yang membawa karung pusing. Sebab, pedagang yang merupakan petani asal Puncak, Bogor, dilarang masuk stasiun.
Hal itu dialami Suyanto (32), pedagang sayur yang biasa berjualan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dia terpaksa harus memindahkan sayuran dalam karung ke kantung-kantung plastik.
"Kalau bawa plastik tidak dilarang petugas, makanya saya harus pindahin ke kantong plastik," kata Suyanto saat ditemui di Stasiun Besar Bogor, Kamis (25/7/2013).
Akibat hal itu, Suyanto terlambat berangkat ke Tanah Abang, karena harus membeli kantong plastik lebih dulu. "Tadinya mau berangkat jam 04.30, tapi karena harus nyari kantong plastik terus mindah-mindahin, saya baru bisa naik yang jam 06.00," katanya.
Pantauan Wartakotalive.com di Stasiun Bogor Besar, antrean penumpang kereta di loket pembelian tiket terlihat mengular beberapa meter. Sejumlah calon penumpang masih kebingungan saat melewati pintu elektronik, terutama saat menempelkan karcis singel trip ke mesin pintu elektronik.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
VIDEO: Harga Mahal, Pedagang Pilih Jual Daging Sisa
Diposting oleh moga
KABAR PEDAGANG, Jakarta : seiring naiknya harga daging serta berkurangnya jumlah pembeli, para pedagang menjual daging nomor dua agar masyarakat tetap bisa membeli sumber bahan protein hewani tersebut. Kondisi ini setidaknya tampak di pasartradisional Prambanan, Sleman, Yogkarta.
Daging kelas dua adalah daging sisa penyembelihan atau bagian daging yang masih banyak terdapat tulang-tulangnya. Daging jenis ini hanya dijual seharga Rp 30 ribu rupiah per kilogram. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan harga daging di pasaran yang sempat menyentuh level 100 ribu per Kg.
Pilihan menjual daging kualitas nomor dua dilakukan para pedagang karena kurangnya kemampuan masyarakat untuk membeli daging. Akibatnya omzet penjualan daging terus menurun karena pembeli terus berkurang
"Harga daging masih tinggi. Harganya sudah tak nyampe. Sudah tidak laku. Orang pada nawar rendah," salah seorang pedagang daging Yogyakarta, Sri Murwani, Kamis (25/7/2013).
Pasar Sepi
Sementara itu di Polewali, Sulawesi Barat, pasar tradisional Polewali Mandar terlihat mulai sepi pengunjung. Kondisi ini disebabkan terus meroketnya harga sejumlah bahan sayur dan ikan.
Tak hanya para pedagang, pembeli di Pasar Polewali Mandar juga mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang meningkat tajam. akibatnya, pasar yang biasanya ramai dikunjugi pembeli tersebut kini menurun drastis bahkan terlihat lengang.
Harga sayur mayur dan daging ayam tercatat naik 100% bahkan harga ikan naik lebih dari 100%. Kenaikan harga ini akan terus terjadi hingga menjelang Lebaran nanti sehingga membuat kemampuan membeli masyarakat terus menurun. (Shd)
Pedagang Daging Sapi Merugi
Diposting oleh moga
KABAR PEDAGANG NUNUKAN -- Pedagang daging lokal di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara merugi akibat harga yang dipatok dari pemerintah daerah setempat terlalu rendah.Hasbi, pedagang daging lokal di Pasar Yamaker Kabupaten Nunukan, mengaku selama Pemerintah Kabupaten Nunukan memberlakukan pelarangan menjual daging dari Malaysia memang tidak ada lagi yang beredar di pasaran, dan hanya ditemukan daging lokal yang masih segar."Hanya saja, sejak pelarangan itu pedagang daging mengeluhkan akibat kerugian yang dialaminya setiap hari karena kurangnya pembeli," kata Hasbi.Ia menyatakan harga daging lokal yang dipatok Pemkab Nunukan adalah Rp 90 ribu per kilogram menyebabkan warga setempat tidak berminat dibandingkan daging asal Malaysia yang hanya Rp 50 ribu per kilogram. "Selama menjual daging lokal, saya selalu merugi. Tidak sebanding dengan harga sapi dengan hasil penjualan," ujarnya.Hasbi mengaku memotong sapi dua ekor setiap pekan dengan harga Rp 18 juta per ekor. Sementara hasil penjualan nya hanya sekitar Rp 17,3 juta didalamnya harga daging dengan tulang belulang. Menurutnya, sapi dengan harga Rp 18 juta per ekor tersebut setelah dipotong beratnya hanya sekitar 200 kilogram. Itupun, untuk setiap ekor dapat terjual sekitar 3-4 hari.Ia membandingkan ketika masih menjual daging asal Malaysia, setiap hari mampu menjual hingga seratus kilogram dengan keuntungan sekitar satu juta rupiah lebih setiap hari. Jika kondisi ini tidak secepatnya diantisipasi oleh Pemkab Nunukan dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan kemungkinan akan kembali memasok daging dari Tawau Malaysia dengan harga pembelian Rp 35 ribu per kilogram."Selama daging Malaysia dilarang di jual disini (Nunukan), saya sudah empat kali memotong sapi. Selama itu pula belum pernah mendapatkan keuntungan," bebernya.
Ia meminta kepada Pemkab Nunukan, pedagang daging lokal baru mendapatkan keuntungan apabila harga jual minimal Rp 105 ribu per kilogram. Karenanya, apabila tidak mendapatkan respon maka kemungkinan akan berinisiatif sendiri untuk menaikkan harga menjelang hari raya Idul Fitri 1434 Hijriyah.
Pedagang Daging Sapi Merugi
Diposting oleh moga
http://kabarpedagang.blogspot.com NUNUKAN -- Pedagang daging lokal di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara merugi akibat harga yang dipatok dari pemerintah daerah setempat terlalu rendah.Hasbi, pedagang daging lokal di Pasar Yamaker Kabupaten Nunukan, mengaku selama Pemerintah Kabupaten Nunukan memberlakukan pelarangan menjual daging dari Malaysia memang tidak ada lagi yang beredar di pasaran, dan hanya ditemukan daging lokal yang masih segar."Hanya saja, sejak pelarangan itu pedagang daging mengeluhkan akibat kerugian yang dialaminya setiap hari karena kurangnya pembeli," kata Hasbi.Ia menyatakan harga daging lokal yang dipatok Pemkab Nunukan adalah Rp 90 ribu per kilogram menyebabkan warga setempat tidak berminat dibandingkan daging asal Malaysia yang hanya Rp 50 ribu per kilogram. "Selama menjual daging lokal, saya selalu merugi. Tidak sebanding dengan harga sapi dengan hasil penjualan," ujarnya.Hasbi mengaku memotong sapi dua ekor setiap pekan dengan harga Rp 18 juta per ekor. Sementara hasil penjualan nya hanya sekitar Rp 17,3 juta didalamnya harga daging dengan tulang belulang. Menurutnya, sapi dengan harga Rp 18 juta per ekor tersebut setelah dipotong beratnya hanya sekitar 200 kilogram. Itupun, untuk setiap ekor dapat terjual sekitar 3-4 hari.Ia membandingkan ketika masih menjual daging asal Malaysia, setiap hari mampu menjual hingga seratus kilogram dengan keuntungan sekitar satu juta rupiah lebih setiap hari. Jika kondisi ini tidak secepatnya diantisipasi oleh Pemkab Nunukan dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan kemungkinan akan kembali memasok daging dari Tawau Malaysia dengan harga pembelian Rp 35 ribu per kilogram."Selama daging Malaysia dilarang di jual disini (Nunukan), saya sudah empat kali memotong sapi. Selama itu pula belum pernah mendapatkan keuntungan," bebernya.
Ia meminta kepada Pemkab Nunukan, pedagang daging lokal baru mendapatkan keuntungan apabila harga jual minimal Rp 105 ribu per kilogram. Karenanya, apabila tidak mendapatkan respon maka kemungkinan akan berinisiatif sendiri untuk menaikkan harga menjelang hari raya Idul Fitri 1434 Hijriyah.
Dengan sedikit trik, pedagang Tanah Abang raup omzet berlipat
Diposting oleh moga
Reporter : Ya'cob Billiocta
Salah satu kegiatan rutin jelang Lebaran, selain berpuasa selama bulan Ramadan adalah belanja baju baru. Semakin mendekati Hari Raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan juga pastinya semakin ramai dikunjungi.Salah satu tempat yang menjadi sasaran belanja adalah Pusat Grosir Tanah Abang, Jakarta. Pantauan http://kabarpedagang.blogspot.com, sejak Selasa (23/7), Tanah Abang sudah ramai didatangi pembeli.Kepadatan pengunjung ini tentunya membawa rezeki lebih bagi para pedagang. Terutama mereka yang berjualan baju muslim. Mereka berkesempatan meraup keuntungan lebih hingga beberapa kali lipat dari hari biasanya, di luar Ramadan. Salah satu pedagang yang menjual gamis dan baju koko yang enggan disebut nama mengaku, penjualannya meningkat banyak selama bulan puasa ini. Ketika ditanya mengenai seberapa besar peningkatan omsetnya, ia menjawab, "Ya tiga kali ada sih," ucapnya.Tidak hanya pedagang baju, mereka yang menjual jilbab pun juga berhasil meningkatkan omset penjualan. "Alhamdulillah meningkat, lebih banyak, dua kali lipat sih lebih," kata salah seorang penjual yang memiliki kios jilbab. Selama bulan Ramadan, pengunjung Pusat Grosir Tanah Abang memang mengalami peningkatan. Banyak pembeli yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia, demi membeli baju serta aksesoris baru menyambut Lebaran. Karena itulah, para pedagang juga memanfaatkan kesempatan di bulan ini untuk menjual sebanyak mungkin barang dagangan mereka. Banyak yang memberikan diskon, ataupun melabeli dagangan mereka seperti "Rp 75.000 sampai Rp 100.000" untuk menarik pembeli.
Laporan: Cornelia Halim
Di Tanah Abang, artis bisa mendongkrak omzet pedagang
Diposting oleh moga
Reporter : Ya'cob Billiocta
Di Lebaran 2013 ini, tentunya banyak tren pakaian yang muncul, baik untuk wanita maupun pria. Tidak hanya pakaian, jilbab pun juga memiliki tren sendiri. Tahun ini, tren gaya jilbab yang sedang populer di kalangan wanita adalah jilbab lilit ala artis cantik April Jasmine.Harga yang dikenakan untuk jilbab lilit ini juga tidak mahal. Di Pusat Grosir Tanah Abang, jilbab lilit ini seharga Rp 45 ribu dengan pilihan berbagai motif dan warna. Bagi Anda yang membeli dalam jumlah banyak, harga grosiran untuk jilbab ini adalah Rp 35 ribu.Selain jilbab lilit, tren baju koko bagi para pria adalah baju model batik katun dan baju koko ala Dude Herlino. Salah satu pedagang baju koko di kios Blok A Tanah Abang yang enggan disebut nama mengatakan, baju koko yang sedang laris adalah yang berkerah shanghai dan model batik. "Kalau di toko saya sih laku semua, yang model kerah shanghai, banyak kancing, sama batik katun," katanya saat berbincang dengan http://kabarpedagang.blogspot.com, Selasa (23/7).Di toko lain, tidak jauh berbeda. Baju koko yang laris dicari pembeli adalah yang bermodel batik. "Yang laku itu model batik, sama model Dude Herlino gitu," kata penjaga toko tersebut. Untuk harga, rata-rata baju koko dijual dengan harga Rp 90 ribu untuk lengan panjang dan Rp 85 ribu untuk lengan pendek. Yang tak kalah laris adalah dress panjang atau biasa disebut dress Cherrybelle. Maksudnya adalah dress atau baju rok panjang dengan bahan sifon yang tersedia dengan berbagai pilihan warna cerah, seperti merah muda, kuning, hijau muda, dan masih banyak lagi.Dinamakan dress Cherrybelle karena personel girlband Cherrybelle sering memakai baju dengan model ini ketika tampil di layar kaca, sehingga menjadi tren bagi penggemarnya, terutama anak muda. Selain itu, dengan memakai dress Cherrybelle ini, memberikan kesan berbusana ala Korea yang sedang populer sekarang.Bagi Anda yang tertarik, dress Cherrybelle ini dijual dengan harga Rp 80 ribu per satuan, atau Rp 60 sampai 70 ribu jika membeli sebanyak 3 atau 4 buah.
Laporan: Cornelia Halim
Pedagang tetap 'nekat' duduki Pasar Gembrong
Diposting oleh moga
LENSAINDONESIA.COM: Puluhan pedagang mainan dan karpet di Pasar Gembrong, Jatinegara, Jakarta Timur saat ini masih masih 'nekat' menduduki lapaknya paska penertiban oleh puluhan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pada Selasa (23/7/13). Padahal, terlihat juga para anggota Satpol PP masih sedang berjaga-jaga di area pasar tersebut. Yang ditakutkan, kericuhan antara pedagang dan anggota Satpol PP kembali terjadi.
Menurut salah satu pedagang karpet di Pasar Gembrong, Anto (30), tindakan para anggota Satpol PP yang ingin menertibkan badan jalan Basuki Rahmat dari para pedagang, dianggap sudah tak wajar, bahkan dinilai layaknya seorang preman pasar.
Baca juga: Satpol PP Mojokerto tutup paksa Sanrio Mart dan Pemkot Jakarta Selatan menjaring 38 PMKS
Pasalnya, saat penertiban berlangsung petugas yang baru saja turun dari mobil langsung menarik karpet dan menarik meja dagangannya yang berada tepat di badan jalan. "Sebelumnya sekitar jam 10.00 WIB petugas memang kesini tapi hanya lewat saja, dan sekitar jam 12.00 WIB petugas kembali lagi dan langsung saja menarik-narik karpet yang lagi di pajang, dan bertindak kasar layaknya preman saja," Cerita Anto pada LICOM saat ditemui di Pasar Gembrong, Rabu (24/07/13).
Anto, sudah berdagang karpet di sisi jalan di Pasar Gembrong selama 4 tahun. Dirinya, mengaku selama berdagang di tempat ini baru kali ini, tindakan Satpol PP dianggap arogansi dan tidak wajar.
"Penertiban kali ini tidak ada pemberitahuan sebelumnya, kami marah karena tindakan petugas sangat tak lazim dilakukan, kami kan bukan binatang, setidaknya jika diberitahukan sebelumnya dengan baik-baik kami juga tidak akan marah," ketusnya.
Selain anggoto Satpol PP yang berjaga-jaga di Pasar gembrong, ada juga para anggota Dinas Perhubungan (dishub) yang ditugaskan untuk menertibkan lalu lintas di sepanjang jalan Basuki Rahmat.
Bahkan, saat kericuhan juga, Kepala Suku Dinas Perhubungan, Mirza Ariyadi mengakui, adanya tindakan tidak persuasif ke pedagang yang dilakukan anggota Satpol PP.
"Tujuan penertiban untuk mendorong pedagang ke trotoar agar tidak mengganggu lalu lintas, ternyata ada anggota Satpol PP yang tidak persuasif dan di respon oleh pedagang dengan perlawanan. Akhirnya terjadilah kericuhan. Mobil Satpol PP di pukul oleh massa. Semenjak awal ini tujuannya hanya sosialisasi agar para pedagang tidak membuat kemacetan," kata Mirza.
Saat dikonfiramsi terkait peristiwa penertiban yang berujung ricuh kemarin, Camat Jatinegara Sofyan Taher membenarkan, dalam penertiban yang dilakukan di pasar gembrong sedikit ada kericuhan yang terjadi akibat adanya beberapa anggota yang tidak bersikap persuasif.
"Memang tadinya saat melakukan penertiban ada anggota kami yang melakukannya tidak secara persuasif, sehingga menimbulkan kemarahan para pedagang, awalnya berlangsung kondisif, razia ini dilakukan karena selama ini pedagang membuat kemacetan. nantinya pihaknya akan terus melakukan penertiban guna membuat jalan Basuki Rahmat bebas dari para pedagang yang berjualan di badan jalan," terang Sofyan.@winarko
Ratusan Pedagang Dukung Jumhur Nyapres
Diposting oleh moga
Catur Nugroho Saputra - http://kabarpedagang.blogspot.com
Jumhur Hidayat (Foto: Dok. http://kabarpedagang.blogspot.com)
JAKARTA - Mencuatnya nama Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat dalam bursa calon presiden (capres) di Pemilu 2014 ternyata mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya, ratusan pedagang buku bekas dari Komunitas Pedagang Buku Jakarta. Ketua Komunitas Pedagang Buku Jakarta, Yusuf HR, mengatakan, dukungan diberikan kepada Jumhur karena dianggap sebagai sosok pemimpin muda yang bersih dan potensial. "Saya pernah beberapa kali berdialog dengan beliau, saya lihat sebagai tokoh pergerakan mahasiswa beliau sosok yang ideologis, dan merakyat. Beliau adalah pemimpin muda yang dapat diharapkan," kata Yusuf kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/7/2013). Dijelaskannya, kondisi bangsa yang saat ini sangat memperihatinkan dimana para tokoh Capres kebanyakan muka lama, sudah jelas tidak mampu membawa perubahan terhadap bangsa Indonesia. "Kami mengamanatkan kepada Jumhur Hidayat untuk menerima, memikul dan memperjuangkan harapan masyarakat ke arah Indonesia yang lebih baik," ujarnya. Dukungan komunitas ini, diberikan melalui pemberian buku secara simbolis berjudul " Harapan Indonesia" kepada Jumhur. Isi dari buku tersebut merupakan keluh kesah, kritik, serta harapan masyarakat kepada calon pemimpin periode mendatang yang dinilai sangat refresentatif dalam menggambarkan kehidupan masyarakat sehingga bisa dijadikan landasan untuk memajukan Indonesia. "Ini simbol bahwa seluruh harapan seluruh rakyat Indonesia akan dibebankan ke calon pemimpin nasional selanjutnya," tambah Yusuf.(cns)
Berita Selengkapnya Klik di Sini
Omzet Pedagang Tanah Abang Lebaran Tahun Ini Menurun
Diposting oleh moga
KABAR PEDAGANG, Jakarta : Geliat penjualan busana muslim di pasar Tanah Abang semakin terlihat dua pekan menjelang lebaran. Meski begitu, pedagang justru memperkirakan terjadinya penurunan omzet penjualan.
Berdasarkan pantauan KABAR PEDAGANG, aktivitas jual beli di pusat grosir terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara itu masih tampak normal. Seperti hari-hari biasa, pasar Tanah Abang masih menjadi surga bagi para pedagang grosiran maupun pembeli eceran untuk mendapatkan busana berkualitas dengan harga miring.
Meski begitu, tumpukan-tumpukan karung berisi pakaian yang biasa lalu lalang di sekitar pintu masuk sedikit berkurang.
Menurut Anton, salah satu pegawai di toko Biir Ali Blok B Tanah Abang, sejak memasuki bulan puasa, pesanan busana koko dari pedagang grosir sudah semakin sepi. Sedangkan pembeli eceran masih cukup ramai.
"Sekarang lagi sepi-sepinya karena biasanya konsumen beli atau memesan baju dalam jumlah besar seminggu sebelum puasa. Sehingga saat ini pedagang di Jakarta dan daerah mulai menjual pakaian yang dibeli dari sini," ucap dia saat berbincang dengan KABAR PEDAGANG, Jakarta, Rabu (24/7/2013).
Pihaknya mengaku melayani pembeli dari Jakarta, Medan, Denpasar, dan sebagainya. "Penjualan sehari kalau sedang ramai bisa sampai 120 potong baju koko. Tapi sekarang lagi sepi paling cuma terjual 50 potong. Biasanya 4 hari jelang lebaran, pembeli mulai ramai lagi," jelas Anton.
Bahkan, dia bilang, hari biasa di luar puasa dan lebaran, penjualan baju koko hanya sekitar 10 potong per hari. "Tapi puasa ini dan tahun lalu saja tidak ada perbedaan signifikan dari sisi penjualan, karena memang siklusnya begitu," tukas Anton.
Sementara itu, pegawai Toko Izzie di Tanah Abang, Heni mengakui omzet perusahana tahun ini menurun hampir separuhnya dari total penjualan sekitar Rp 40 juta per hari saat sedang ramai.
"Puasa dan Lebaran tahun lalu, omzet bisa Rp 40 juta per hari, tapi sekarang maksimal lebih dari Rp 20 juta per hari," ucapnya.
Alasannya, lanjut Heni, karena dorongan kenaikan harga bahan pokok dan tahun ajaran baru, sehingga para ibu lebih memprioritaskan kebutuhan anak sekolah dibandingkan berbelanja pakaian. (Fik/Shd)
Pedagang Tanah Abang Keluhkan Tak Ada Lonjakan Pembeli
Diposting oleh moga
Suasana Pasar Blok A, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2013). Pengelolaan pasar tersebut akan kembali diserahkan kepada PD Pasar Jaya. | http://kabarpedagang.blogspot.com.com/ALSADAD RUDI
JAKARTA, http://kabarpedagang.blogspot.com.com - Sejumlah pedagang Pasar Blok A, Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengklaim tidak ada lonjakan pendapatan yang istimewa pada penjualan Lebaran tahun ini. Menurut mereka, dekatnya tahun ajaran baru anak sekolah dan Lebaran menjadi penyebabnya.
"Ramainya kemarin pas anak-anak mau masuk sekolah, sekarang udah biasa-biasa aja. Mungkin uangnya udah kepakai buat masuk sekolah kemarin," kata Sutrisno (47), salah seorang pedagang, saat ditemui http://kabarpedagang.blogspot.com di kiosnya, Rabu (24/7/2013).
Sutrisno mengungkapkan, pada tahun-tahun sebelumnya, dia selalu meraup keuntungan 30-40 persen dari keuntungan normal. Orang-orang biasanya akan ramai datang dimulai dua bulan dan mencapai puncaknya pada pertengahan puasa.
"Kalau sekarang yang beli orang yang memang udah langganan, biasa beli di sini untuk dagangan dia," ungkapnya.
Sementara pedagang yang lain, Anyan (45), mengatakan, untuk pengiriman barang tahun ini, dia mengaku hanya melayani permintaan di sekitar Jabodetabek, Bandung, serta beberapa kota terdekat dari Jakarta.
"Pengiriman jauh-jauh, ke luar pulau udah enggak ada. Enggak ada yang mesen juga. Kata mereka, orang udah pada ramai (beli baju) kemarin saat musim masuk sekolah," jelasnya.
Lebaran akan jatuh pada Kamis (8/8/2013) mendatang. Sementara tahun ajaran baru anak sekolah dimulai pada Senin (15/7/2013) awal pekan lalu. Selisih awal tahun ajaran baru dan Lebaran tahun ini tidak mencapai selisih 30 hari seperti tahun-tahun sebelumnya.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
Komunitas Pedagang Buku Jakarta Dukung Jumhur Hidayat
Diposting oleh moga
Bahri Kurniawan/Tribun Jakarta
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ratusan pedagang buku bekas dari Komunitas Pedagang Buku Jakarta menyatakan mendukung Jumhur Hidayat untuk maju dalam Pemilihan Presiden 2014 mendatang. Mereka menyatakan dukungannya dengan secara simbolis menyerahkan buku "Harapan Indonesia" kepada Jumhur Hidayat. "Kami mengamanatkan kepada Jumhur Hidayat untuk menerima, memikul dan memperjuangkan harapan masyarakat ke arah Indonesia yang lebih baik," ujar Ketua Komunitas Pedagang Buku Jakarta, Yusuf HR di Blok M Square, Rabu (24/7/2013). Menurut Yusuf, dukungan mereka terhadap Jumhur karena ia dianggap sebagai sosok pemimpin muda yang bersih dan potensial. Ia mengatakan saat ini rakyat sudah muak dengan calon pemimpin yang itu-itu saja dan sudah terbukti tidak mampu membawa perubahan bagi Indonesia. "Saya pernah beberapa berdialog dengan beliau, saya lihat sebagai tokoh pergerakan mahasiswa beliau sosok yang ideologis, dan merakyat. Beliau adalah pemimpin muda yang dapat diharapkan," imbuhnya. Dalam acara tersebut, komunitas pedagang Jakarta menyerahkan buku harapan Indonesia yang berisi unek-unek masyarakat akan harapan dan kritikan mereka kepada calon pemimpin mendatang. Melalui buku ini Yusuf menyebut mereka sebagai representatif masyarakat menuliskan harapan sebagai bentuk perjuangan untuk memajukan bangsa Indonesia. "Ini simbol bahwa seluruh harapan seluruh rakyat Indonesia akan dibebankan ke calon pemimpin nasional selanjutnya," katanya.
Jelang Idul Fitri, Pedagang Batik Jambi Ketiban Berkah
Diposting oleh moga
http://kabarpedagang.blogspot.com, Jambi : Menjelang Idul Fitri, para pengusaha dan pedagang batik jambi mengaku mendapatkan berkah. Lantaran, omzet penjualannya merangkak naik dari hari-hari biasanya.
Salah satu pemilik toko, yang menjual khusus batik-batik khas Jambi, Hj Mahmudin mengaku, saat ini mulai memetik keuntungan menjelang Idul Fitri.
"Omzet penjualan ada peningkatan ya, tapi biasanya akan meningkat jelas pada saat Lebaran nanti," kata ibu Hj Mahmudin, pemilik Toko Batik Jambi 'Berkah' di Jl Simpang Mangga, Jambi saat berbincang dengan http://kabarpedagang.blogspot.com, Rabu (24/7/2013).
Meskipun belum bisa mengungkapkan persentase peningkatan omzetnya, tetapi ia meyakini bahwa penjualan batik Jambi akan meningkat pada hari raya Idul Fitri. "Karena biasanya orang membeli batik pada saat menjelang Lebaran."
Mungkin memang terdengar asing apabila menyebut batik jambi karena masyarakat Indonesia mungkin lebih mengenal batik jogja, batik solo, batik pekalongan, batik cirebon, batik madura, dan semua batik yang berasal dari pulau Jawa.
Batik jambi memiliki corak dan motif sendiri yang sangat khas dibandingkan dengan batik-batik di daerah lain, lantaran motif-motif batik menceritakan tentang kehidupan masyarakat Jambi antara lain, motif Batang Hari, motif Bungo Pauh, motif Duren Pecah, motif Kapal Sangat, motif Kuau Berhias, motif Merak Ngeram, dan motif Tampok Manggis.
Batik jambi sendiri terbagi menjadi 2 jenis, yaitu batik tulis dan batik cap (terdapat pola untuk dicap pada kain). Untuk bahannya, sutra atau katun.
Untuk harganya pun bervariasi, tergantung dari cara pembuatan dan bahan. Batik tulis memiliki harga lebih mahal dibanding batik cap. Batik berbahan sutra juga lebih mahal dibanding batik berbahan katun. Harganya bervariasi mulai Rp 100.000 per potong hingga jutaan rupiah. (Ein/Yus)
[VIDEO] Alasan Pedagang Pasar Gembrong Tolak Relokasi
Diposting oleh moga
Omzet Pedagang Tanah Abang Lebaran Tahun Ini Menurun
Diposting oleh moga
Tradisi Qunut, Pedagang Kulit Ketupat Raih Untung
Diposting oleh moga
Amba Dini Sekarningrum - http://kabarpedagang.blogspot.com
TANGERANG - Pedagang kulit ketupat di Pasar Anyar, Kota Tangerang, Selasa (23/7/2013) kebanjiran pelanggan. Pasalnya, banyak warga yang membeli kulit ketupat guna melaksanakan tradisi qunut atau kunutan yang hingga saat ini masih melekat di masyarakat. "Saya jualan sudah sejak kemarin, seperti biasa di hari kelima belas masyarakat banyak yang membuat ketupat untuk menyambut qunut," kata Mulya, salah seorang penjual kulit ketupat. Mulya mengaku meraup untung berkali lipat dari hasil berdagang kulit ketupat. Ia bersama sejumlah teman lainnya setiap tahun sekali beralih profesi sebagai pedagang ketupat saat menjelang qunut dan juga lebaran. Rata-rata dari berjualan kulit ketupat musiman itu, mereka mengaku bisa meraup untung berkisar Rp250 ribu hingga Rp500 ribu perhari. "Saya jual Rp5000 untuk sepuluh kulit ketupat. Biasanya, dalam sehari laku lebih dari 1000 kulit ketupat saat qunut seperti sekarang," tuturnya. Dikarenakan adanya perbedaan waktu pelaksanaan qunut di masyarakat, Mulya mengaku juga akan berjualan selama dua hari, sehingga masyarakat yang baru melangsungkan qunut pada esok hari masih dapat mendapatkan kulit ketupat. Sementara itu Yati, salah seorang pembeli mengaku setiap tahunnya menyambut qunut, ia selalu menyediakan ketupat untuk keluarganya. "Tidak seperti lebaran sih belinya banyak, kalau qunut belinya untuk buka puasa saja, sekedar menjaga tradisi," pungkasnya.(hol)
Berita Selengkapnya Klik di Sini
Berita Terkait:
Pedagang Parsel Musiman di Garut Mulai Bermunculan
Diposting oleh moga
GARUT, http://kabarpedagang.blogspot.com.com - Dua pekan menjelang hari raya Idul Fitri 1434 Hijriah, para pedagang parsel musiman di Garut, Jawa Barat, sudah mulai bermunculan. Salah satu yang bisa dijumpai adalah toko parsel Neng yang ada di Jalan Cimanuk, Garut.
Toko musiman ini sudah buka pada hari ke-10 Ramadhan. "Buka sejak kemarin hari ke-10 (Ramadhan) dan rencana tutup H-3 Lebaran. Saya sewa tempat ini Rp 6 juta," kata Olivia (33), pemilik toko parsel Neng, Rabu (24/7/2013) siang.
Menurut perempuan asal Tasikmalaya ini, omzet penjualan parsel tahun ini diprediksi meningkat lantaran berkurangnya pesaing.
"Meski kondisi ekonomi lesu gara-gara BBM naik, saya masih optimistis bisa meraup untung besar tahun ini. Saya sudah survei, yang jualan cuma tiga tempat (tahun ini)," jelasnya.
Berbeda dengan tahun lalu, harga jual parsel di toko parsel Neng tahun ini berkisar Rp 100.000 sampai Rp 300.000. Ada tiga paket parsel yang dijual, yakni makanan, barang pecah belah (keramik), dan kombinasi makanan dan keramik.
"Kulakannya dari Bandung. Kan sudah mahal semua, Mas. Kalau tahun kemarin sih kita masih ada yang paketan lima puluh ribuan. Tapi kalau belinya partai besar, bolehlah kita kasih diskon," tambah Olivia.
Empat Alasan Pedagang dan Konsumen Tolak Daging Sapi Impor
Diposting oleh moga
http://kabarpedagang.blogspot.com YOGYAKARTA -- Daging sapi impor ternyata tidak hanya ditolak oleh pedagang daging sapi di pasar tradisional, tetapi juga konsumen, terutama penjual bakso.Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY Sri Haryanto mengatakan saat dia melakukan pemantauan di tiga pasar tradisional di DIY ada empat alasan yang dikemukakan pedagang daging sapi di pasar mengapa mereka menolak daging sapi impor yakni:1. Daging sapi impor kalau dipegang lengket dan tidak segar.2. Daging sapi impor biasanya membeku dan setelah mencair lunak, kurang kenyal.3. Berat daging akan berkurang bila es sudah mencair, sehingga pada saat membeku beratnya satu kilogram, maka setelah esnya mencair, berat daging sebenarnya tinggal delapan ons. Sehingga saat seseorang membeli daging sapi impor yang biasanya masih membeku, maka setelah sampai di rumah dan akan dimasak beratnya berkurang sekitar 20 persen.4. Pedagang bakso tidak suka daging impor karena setelah diproses untuk dibuat bakso tidak bisa jadi.Karena itulah maka meskipun ada daging sapi impor masuk, harga daging sapi lokal masih stabil dan bahkan cenderung naik bila dibandingkan seminggu yang lalu, ungkap Sri. nneni ridarineni
Ini Empat Alasan Pedagang Tradisional Tolak Daging Impor
Diposting oleh moga
http://kabarpedagang.blogspot.comYOGYAKARTA - Daging sapi impor ternyata tidak hanya ditolak oleh pedagang daging sapi di pasar tradisional, tetapi juga konsumen, terutama penjual bakso.Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY Sri Haryanto mengatakan saat dia melakukan pemantauan di tiga pasar tradisional di DIY ada empat alasan yang dikemukakan pedagang daging sapi di pasar mengapa mereka menolak daging sapi impor yakni:1. Daging sapi impor kalau dipegang lengket dan tidak segar.2. Daging sapi impor biasanya membeku dan setelah mencair lunak, kurang kenyal.3. Berat daging akan berkurang bila es sudah mencair, sehingga pada saat membeku beratnya satu kilogram, maka setelah esnya mencair, berat daging sebenarnya tinggal delapan ons. Sehingga saat seseorang membeli daging sapi impor yang biasanya masih membeku, maka setelah sampai di rumah dan akan dimasak beratnya berkurang sekitar 20 persen.4. Pedagang bakso tidak suka daging impor karena setelah diproses untuk dibuat bakso tidak bisa jadi.Karena itulah maka meskipun ada daging sapi impor masuk, harga daging sapi lokal masih stabil dan bahkan cenderung naik bila dibandingkan seminggu yang lalu, ungkap Sri.
[VIDEO] Tolak Relokasi, Pedagang Bandara Ngurah Rai Demo
Diposting oleh moga
http://kabarpedagang.blogspot.com, Denpasar : Puluhan pedagang berdemo menjelang peresmian Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Mereka menolak rencana relokasi pihak Angkasa Pura II karena tingginya biaya sewa di tempat yang baru.
Dalam tayangan Liputan 6 SCTV, Rabu dini hari (24/7/2013), para demonstran itu melakukan aksinya dengan berjalan kaki. Mereka menuju kantor pemenang lelang yang mengatur penempatan lapak pedagang di dalam bandara.
Pedagang menuntut Angkasa Pura II segera menyediakan lapak seperti yang dijanjikan. Sebab lokasi berdagang yang dijanjikan hanya ada 32 tempat dan pedagang lama justru tidak kebagian.
Selain itu, mereka juga menolak menyewa counter yang disediakan karena sewanya tidak terjangkau.
Pendemo mengancam akan terus melakukan aksinya jika tuntutan mereka tak dipenuhi. (Ali)
212 Pedagang Kaki Lima Daftar ke Blok G Tenabang
Diposting oleh moga
Suasana di jalan KH Mas Mansyur, sekitar pasar Tanah Abang yang penuh dengan para pedagang kaki lima, (15/7). Pemprov DKI Jakarta telah menempatkan para PKL di Pasar Tanah Abang di Blok G tetapi mereka lebih memilih berdagang di badan jalan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho
KABAR PEDAGANG, Jakarta - Waktu pendaftaran bagi pedagang kaki lima untuk bisa menempati Blok G Pasar Tanah Abang sudah ditutup pada Selasa, 23 Juni 2013. Sampai penutupan tadi sore, hanya sekitar 212 dari 785 PKL yang telah didata pihak PD Pasar Jaya dan Suku Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan yang baru mendaftar.
Petugas pendaftaran dari Suku Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan, Wachyu Susilo Hadi mengatakan, meskipun yang mendaftar kurang dari setengah yang telah didata, belum tahu waktu pendaftaran akan diperpanjang atau tidak. "Saya ikut instruksi dari DKI 1 (Joko Widodo) saja, kalau disuruh perpanjangan ya kami siap," ucapnya kepada Tempo, di Kantor PD Pasar jaya Blok G Tanah Abang Jakarta Pusat, Selasa 23 Juli 2013. Ia menuturkan selama pendaftaran dibuka sepekan, per harinya rata-rata PKL yang mendaftar hanya 20 orang. "Yang paling banyak hari ini, 108 pendaftar," kata Wachyu. Dia berharap bagi PKL yang belum tertampung di Blok G akan ada solusi secepatnya. Pendaftar ke Blok G, lanjut Wachyu, hanya bagi pedagang yang ber KTP DKI Jakarta. Pada data sebelumnya, PKL yang ber KTP Jakarta yang telah mereka data berjumlah 470 pedagang. "Sesuai aturan memang prioritas pedagang yang ber KTP Jakarta," ucapnya. Padahal, Daya tampung pasar Blok G yang tersedia saat ini sebanyak 1.067 tempat usaha dari lantai dasar hingga ke lantai 3.
Sebelumnya, Kepala Pasar Tanah Abang Blok G, Warimin menyatakan akses ke Blok G diperuntukkan bagi pedagang yang telah mereka data sebanyak 785 PKL baik ber KTP Jakarta maupun luar Jakarta. Adapun untuk kondisi pasar Blok G yang selama ini dijadikan alasan utama para PKL enggan masuk sana, Warimin mengaku sudah mulai melakukan perbaikan-perbaikan seperti pemasangan 9 pintu akses masuk ke lantai 1 hingga lantai 4 (kantor pasar dan mesjid). "Barusan juga habis beli gembok, jadi dipastikan aman."
Sedangkan untuk rolling yang masih rusak, Warimin mengaku saat ini pihaknya tengah mencari kontraktor untuk membenahi kerusakan-kerusakan tersebut. "Ini masih nyari, belum ada yang pas, nanti bertahap lah," ujarnya. Nur Hayati, 26 tahun, pedagang pakaian ini mengaku baru tahu informasi pendaftaran hari ini, jadi dia baru daftar. "Itupun dikasih tahu orang tua yang tahu dari selentingan-selentingan," ucapnya. Hal senada juga dikatakan oleh Ipinra, pedagang pakaian, yang baru mengetahui informasi pendaftaran ke Blok G dari Ibunya. "Saya gak ngerti juga. Karena setelah lebaran tidak boleh jualan di jalan, jadi ya daftar ke Blok G," kata dia.LINDA TRIANITA
212 Pedagang Kaki Lima Daftar ke Blok G Tenabang
Diposting oleh moga
Suasana di jalan KH Mas Mansyur, sekitar pasar Tanah Abang yang penuh dengan para pedagang kaki lima, (15/7). Pemprov DKI Jakarta telah menempatkan para PKL di Pasar Tanah Abang di Blok G tetapi mereka lebih memilih berdagang di badan jalan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho
http://kabarpedagang.blogspot.com, Jakarta - Waktu pendaftaran bagi pedagang kaki lima untuk bisa menempati Blok G Pasar Tanah Abang sudah ditutup pada Selasa, 23 Juni 2013. Sampai penutupan tadi sore, hanya sekitar 212 dari 785 PKL yang telah didata pihak PD Pasar Jaya dan Suku Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan yang baru mendaftar.
Petugas pendaftaran dari Suku Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan, Wachyu Susilo Hadi mengatakan, meskipun yang mendaftar kurang dari setengah yang telah didata, belum tahu waktu pendaftaran akan diperpanjang atau tidak. "Saya ikut instruksi dari DKI 1 (Joko Widodo) saja, kalau disuruh perpanjangan ya kami siap," ucapnya kepada Tempo, di Kantor PD Pasar jaya Blok G Tanah Abang Jakarta Pusat, Selasa 23 Juli 2013. Ia menuturkan selama pendaftaran dibuka sepekan, per harinya rata-rata PKL yang mendaftar hanya 20 orang. "Yang paling banyak hari ini, 108 pendaftar," kata Wachyu. Dia berharap bagi PKL yang belum tertampung di Blok G akan ada solusi secepatnya. Pendaftar ke Blok G, lanjut Wachyu, hanya bagi pedagang yang ber KTP DKI Jakarta. Pada data sebelumnya, PKL yang ber KTP Jakarta yang telah mereka data berjumlah 470 pedagang. "Sesuai aturan memang prioritas pedagang yang ber KTP Jakarta," ucapnya. Padahal, Daya tampung pasar Blok G yang tersedia saat ini sebanyak 1.067 tempat usaha dari lantai dasar hingga ke lantai 3.
Sebelumnya, Kepala Pasar Tanah Abang Blok G, Warimin menyatakan akses ke Blok G diperuntukkan bagi pedagang yang telah mereka data sebanyak 785 PKL baik ber KTP Jakarta maupun luar Jakarta. Adapun untuk kondisi pasar Blok G yang selama ini dijadikan alasan utama para PKL enggan masuk sana, Warimin mengaku sudah mulai melakukan perbaikan-perbaikan seperti pemasangan 9 pintu akses masuk ke lantai 1 hingga lantai 4 (kantor pasar dan mesjid). "Barusan juga habis beli gembok, jadi dipastikan aman."
Sedangkan untuk rolling yang masih rusak, Warimin mengaku saat ini pihaknya tengah mencari kontraktor untuk membenahi kerusakan-kerusakan tersebut. "Ini masih nyari, belum ada yang pas, nanti bertahap lah," ujarnya. Nur Hayati, 26 tahun, pedagang pakaian ini mengaku baru tahu informasi pendaftaran hari ini, jadi dia baru daftar. "Itupun dikasih tahu orang tua yang tahu dari selentingan-selentingan," ucapnya. Hal senada juga dikatakan oleh Ipinra, pedagang pakaian, yang baru mengetahui informasi pendaftaran ke Blok G dari Ibunya. "Saya gak ngerti juga. Karena setelah lebaran tidak boleh jualan di jalan, jadi ya daftar ke Blok G," kata dia.LINDA TRIANITA
Dirazia BPOM, Pedagang Adu Mulut dengan Petugas
Diposting oleh moga
Seorang pedagang di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tengah beradu mukut dengan petugas Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang menggelar razia bahan makanan kadaluarsa. Selasa, (23/07/2013). | http://kabarpedagang.blogspot.com.com/ABDUL HAQ
BONE, http://kabarpedagang.blogspot.com.com - Razia yang digelar Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Pasar Sentral Palakka, Kecamatan Taneteriattang Barat, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Selasa (23/7/2013), diwarnai aksi adu mulut antara pihak petugas dan pedagang pasar setempat.Adu mulut ini terjadi karena pedagang keberatan jika barang dagangannya dimusnahkan oleh petugas meski sudah kedaluwarsa. "Tidak usah dimusnahkan nanti saya kembalikan, menjual di sini tidak ada untungnya kalau dimusnahkan tambah rugi lagi," bentak Ati kepada petugas BPOM.
Meski demikian, petugas tetap memusnahkan sejumlah bahan makanan seperti bihun, dan susu karena telah kedaluwarsa, namun tetap diperjualbelikan. Selain itu, petugas juga memusnahkan salah satu produk bahan adonan kue lantaran menggunakan zat pewarna berbahaya. "Ini sudah ratusan botol kita musnahkan karena tetap diperjualbelikan, padahal ini sangat berbahaya bagi kesehatan," ujar Zohra Ros, petugas BPOM Kabupaten Bone. Sementara sejumlah pedagang lainnya berkilah, barang yang kedaluwarsa dan telah disita oleh petugas BPOM adalah dagangan yang luput dari pemeriksaan sebelum diperdagangkan. "Kami sering periksa sebelum dijual jadi mungkin kami khilaf," kilah Taslim, seorang pedagang lainnya.
Editor : Glori K. Wadrianto
Pedagang Enggan Jual Cabai dan Bawang Impor
Diposting oleh moga
KABAR PEDAGANG JAKARTA -- Pemerintah dalam waktu dekat akan segera mengimpor cabai merah dan bawang merah dari Vietnam dan Cina untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Namun, belum juga impor itu dilakukan, pedagang sudah mengungkapkan enggan menjual komoditi impor tersebut. Wawan, salah satu pedagang sayuran di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat mengatakan, cabai merah impor kurang diminati pelanggan. Sebab, kata dia, cabai impor rasanya kurang pedas. Sementara, bawang merah impor ketika dimasak kurang harum aromanya. "Jangankan bawang merah impor, bawang merah yang bukan dari Brebes saja rasanya sudah beda," ujar pedagang sayur yang baru berjualan di Pasar Benhil selama empat bulan ini, Senin (22/7). Para pelanggan, menurut Wawan, hanya mau membeli komoditi impor yang kualitasnya sudah terjamin saja, seperti wortel, bawang putih, dan jeruk. Karenanya, dia mengatakan, akan tetap menjual barang lokal selama pasokannya masih ada. "Istilahnya mahal dikit juga pelanggan tetep mau," ucapnya. Wawan sendiri saat ini menjual cabai rawit merah seharga Rp 80 ribu per kilogram. Harga tersebut, kata dia, sedikit turun dibanding tiga hari lalu ketika harganya masih Rp 100 ribu per kilogram. Sementara, bawang merah ia menjual seharga Rp 60 ribu per kilogram. Dengan harga yang mahal tersebut, Wawan merasakan omzetnya menurun. Sebab, menurut dia, para pelanggannya kini lebih irit ketika memasak menggunakan cabai dan bawang. "Pelanggan biasanya beli setengah kilo sekarang jadi beli seperempat," kata dia.