Omzet Pedagang Tanah Abang Lebaran Tahun Ini Menurun

Diposting oleh moga


KABAR PEDAGANG, Jakarta : Geliat penjualan busana muslim di pasar Tanah Abang semakin terlihat dua pekan menjelang lebaran. Meski begitu, pedagang justru memperkirakan terjadinya penurunan omzet penjualan.




Berdasarkan pantauan KABAR PEDAGANG, aktivitas jual beli di pusat grosir terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara itu masih tampak normal. Seperti hari-hari biasa, pasar Tanah Abang masih menjadi surga bagi para pedagang grosiran maupun pembeli eceran untuk mendapatkan busana berkualitas dengan harga miring.


Meski begitu, tumpukan-tumpukan karung berisi pakaian yang biasa lalu lalang di sekitar pintu masuk sedikit berkurang.


Menurut Anton, salah satu pegawai di toko Biir Ali Blok B Tanah Abang, sejak memasuki bulan puasa, pesanan busana koko dari pedagang grosir sudah semakin sepi. Sedangkan pembeli eceran masih cukup ramai.


"Sekarang lagi sepi-sepinya karena biasanya konsumen beli atau memesan baju dalam jumlah besar seminggu sebelum puasa. Sehingga saat ini pedagang di Jakarta dan daerah mulai menjual pakaian yang dibeli dari sini," ucap dia saat berbincang dengan KABAR PEDAGANG, Jakarta, Rabu (24/7/2013).


Pihaknya mengaku melayani pembeli dari Jakarta, Medan, Denpasar, dan sebagainya. "Penjualan sehari kalau sedang ramai bisa sampai 120 potong baju koko. Tapi sekarang lagi sepi paling cuma terjual 50 potong. Biasanya 4 hari jelang lebaran, pembeli mulai ramai lagi," jelas Anton.


Bahkan, dia bilang, hari biasa di luar puasa dan lebaran, penjualan baju koko hanya sekitar 10 potong per hari. "Tapi puasa ini dan tahun lalu saja tidak ada perbedaan signifikan dari sisi penjualan, karena memang siklusnya begitu," tukas Anton.


Sementara itu, pegawai Toko Izzie di Tanah Abang, Heni mengakui omzet perusahana tahun ini menurun hampir separuhnya dari total penjualan sekitar Rp 40 juta per hari saat sedang ramai.


"Puasa dan Lebaran tahun lalu, omzet bisa Rp 40 juta per hari, tapi sekarang maksimal lebih dari Rp 20 juta per hari," ucapnya.


Alasannya, lanjut Heni, karena dorongan kenaikan harga bahan pokok dan tahun ajaran baru, sehingga para ibu lebih memprioritaskan kebutuhan anak sekolah dibandingkan berbelanja pakaian. (Fik/Shd)


{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar