TRIBUNNEWS.COM, SUBANG -- DENGAN tubuh penuh lumpur, Saena (49) menggendong cucunya yang tidak berhenti menangis. Di sekelilingnya, berkumpul saudara-saudaranya dari Desa Citiu Sari Kecamatan Gara Wangin Kabupaten Kuningan.
Di sebuah masjid yang tidak begitu jauh dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan enam orang, Saena dan sembilan anggota keluarganya berteduh. Mereka adalah korban selamat dalam peristiwa nahas tersebut.
"Saya masih syok mas. Alhamdulillah saya dan keluarga, apalagi cucu saya ini masih selamat. Saat kejadian, saya peluk erat cucu saya enggak lepas," ujar Saena, Senin (15/7/2013).
Hasan Abdullah (33), masih satu keluarga dengan Saena, dengan baju penuh lumpur yang sudah mengering, menceritakan bahwa ia dan 10 orang keluarganya berangkat dari Kuningan menuju Jakarta.
"Kami sekeluarga mau berdagang di Jakarta mas, di Jembatan Lima. Satu minggu setelah puasa, kami sudah biasa berangkat ke Jakarta untuk berdagang," ujar Hasan.
Ia mengaku sudah lima belas tahun mencari peruntungan di ibu kota selama bulan puasa dengan berjualan barang-barang, mulai mainan, pakaian hingga perabotan hingga makanan.
"Istilahnya pedagang musiman mas. Selama lima belas tahun ini, baru kali ini kami ngalami hal seperti ini. Syok mas," ujar Hasan.Di Jakarta, Hasan dan kerabatnya tinggal di sebuah kontrakan kecil yang disewa Rp 600 ribu selama sebulan. "Di Jakarta biasanya dua minggu. Setelah dua minggu itu, kami pulang lagi. Dan di Jakarta, kami tinggal ngontrak," katanya.
Barang-barang yang dibawa dari Kuningan, kata Hasan, umumnya pakaian yang akan dipakai selama di Jakarta. Untuk barang yang akan dijual pun, biasanya ia membelinya di Jakarta, di Pasar Baru atau di Pasar Senen.
"Kami ke sana cuma bawa pakaian dan uang saja buat modal. Belanja barangnya di Jakarta. Keuntungan yang bisa kami bawa pulang dagang di Jakarta itu besar mas, Rp 8 juta sampai 10 juta-an lebih. Jadi, ya menguntungkan. Apalagi, modalnya patungan," ujarnya.
Dengan adanya kecelakaan lalu lintas tersebut, ia hanya bisa pasrah. Puasa tahun ini, ia harus merelakan keuntungan rupiah menjadi pedagang musiman di Jakarta.
"Kalau sudah seperti ini, kayaknya pulang aja mas. Mau gimana, kami masih syok juga. Ya untuk tahun ini, kami harus sabar dulu aja," ujarnya seraya berharap ia dibantu oleh aparat terkait untuk kepulangan mereka ke Kuningan. "Kami enggak mau nginap di jalan kaya gini mas. Mudah-mudahan bisa dianterin pulang," katanya. (men)
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar