Kamis, 18 Juli 2013 | 12:56 WIB
Ilustrasi daging sapi. TEMPO/Aditia Noviansyah
KABAR PEDAGANG, Surabaya - Puluhan pedagang daging yang tergabung dalam Asosiasi Penjagal dan Penjual Daging Segar Pasar Wonokromo menolak operasi pasar Pemerintah Kota Surabaya dan Perusahaan Daerah Pasar Surya Surabaya.
Operasi pasar dianggap akan merugikan pedagang. "Daging yang dijual mereka tidak jelas daging apa, impor atau lokal. Kehalalannya juga dipertanyakan," kata Muthowif, penjual daging segar di Pasar Wonokromo, Kamis, 18 Juli 2013.
Muthowif, yang juga Ketua Asosiasi Penjagal Jawa Timur, ini mengatakan, operasi pasar bisa merugikan pedagang karena harga daging yang dijual jauh lebih murah. Saat ini harga di tangan pedagang Rp 85-87 ribu per kilogram untuk kualitas biasa dan Rp 95 ribu untuk kualitas super.
Sementara harga daging kualitas super yang dijual dalam operasi pasar hanya Rp 72 ribu per kilogram. Pedagang daging segar di Pasar Wonokromo, menurut Muthowif, tidak mungkin menurunkan harga, apalagi menyamakan harga dengan harga operasi pasar. Hal itu dikarenakan harga kulakan daging dari penjagal sapi juga sudah tinggi. "Kulakannya sudah mahal, disuruh dijual murah, bisa bangkrut kami," ujar Muthowif.Muthowif mengatakan, pedagang Pasar Wonokromo meminta kalau pemerintah mau menurunkan harga daging seharusnya bukan dengan daging impor. "Kami mengindikasikan daging yang dijual itu daging impor," katanya. Direktur Utama Pasar Surya Surabaya Karyono Wibowo mengatakan, daging yang dijual dalam operasi pasar kali ini adalah daging lokal yang diambil dari rumah potong hewan yang ada di wilayah sekitar Surabaya.Selain itu, sesuai dengan permintaan pedagang daging segar Pasar Wonokromo, Sumaryono akan mengecek ulang ke RPH terkait dengan jenis daging yang dijual di operasi pasar. "Kalau terbukti ini daging impor kami akan sanksi mereka," katanya.ARIEF RIZQI HIDAYAT
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar